sejarah biro perjalanan pertama di indonesia
jejak pariwisata era kolonial
Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa otak kita selalu mendambakan liburan? Secara psikologis, manusia memang terprogram secara evolusioner untuk mencari kebaruan atau novelty. Saat melihat pemandangan baru atau mencicipi makanan asing, otak kita melepaskan dopamin. Kita merasa segar. Kita merasa hidup. Hari ini, jika rasa penat itu datang, kita tinggal membuka aplikasi di ponsel, memesan tiket, lalu berangkat. Sangat mudah. Tapi mari kita mundur sejenak dan berpikir bersama. Sebelum ada internet, sebelum ada koper beroda yang praktis, siapa yang pertama kali mengorganisir rasa "haus jalan-jalan" ini di Nusantara? Jawabannya akan membawa kita melintasi mesin waktu, menuju sebuah era di mana pariwisata bukanlah sekadar rekreasi untuk melepas penat. Ini adalah cerita tentang sebuah eksperimen psikologi massa dan politik citra yang dikemas sangat rapi.
Mari kita meluncur ke awal abad ke-20. Tepatnya pada tahun 1908. Pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda mendirikan Official Tourist Bureau (OTB) atau Biro Wisata Resmi di Batavia. Ini adalah biro perjalanan resmi pertama yang tercatat dalam sejarah Hindia Belanda. Kenapa tiba-tiba mereka repot mengurus liburan? Teman-teman, saat itu dunia sedang berubah dengan sangat pesat. Kapal uap mulai beroperasi secara reguler melintasi benua. Terusan Suez baru saja dibuka, membuat jarak pelayaran antara Eropa dan Asia tiba-tiba terasa begitu dekat. Di saat yang sama, orang-orang Eropa kelas atas mulai jenuh dengan rute liburan musim panas yang itu-itu saja. Mereka butuh destinasi yang lebih eksotis, sesuatu yang benar-benar asing untuk memacu kembali dopamin mereka. OTB dengan sangat cerdas menangkap peluang psikologis ini. Mereka mulai mencetak buku-buku panduan wisata yang tebal, memotret pemandangan alam tropis, dan menyebarkan poster-poster indah ke seluruh penjuru Eropa dan Amerika. Mereka mulai menjual sebuah fantasi.
Di sinilah cerita mulai terasa sedikit janggal dan memancing rasa penasaran kita. OTB tidak sekadar menjual tiket kapal atau mengatur jadwal kereta api. Sadar atau tidak, mereka sedang membentuk ingatan kolektif dunia tentang kepulauan kita. Pernahkah kita mendengar istilah Mooi Indie atau Hindia Molek? Itu adalah hasil kerja keras biro perjalanan ini. Mereka memilih dengan sangat hati-hati gambar apa yang boleh dilihat oleh dunia. Gunung yang berasap pelan, petani yang tersenyum damai di tengah sawah, dan tentu saja, keeksotisan budaya Bali yang seolah tak tersentuh zaman. Tapi, tunggu sebentar. Apakah realitas di lapangan pada masa itu benar-benar seindah lukisan di poster-poster pariwisata tersebut? Siapa sebenarnya target pasar utama mereka? Dan mengapa orang-orang lokal pribumi pada masa itu tidak pernah dilibatkan sebagai penikmat wisata, melainkan hanya sebagai tontonan? Ada sebuah motif yang sangat tersembunyi. Sebuah alasan kuat mengapa pemerintah kolonial rela menggelontorkan dana yang begitu besar untuk membesarkan biro pariwisata ini.
Jawabannya terletak pada konsep psikologi sosial yang sering disebut oleh para ahli sosiologi sebagai Tourist Gaze atau tatapan wisatawan. Kenyataannya, OTB pada masa itu adalah mesin propaganda brilian yang dibungkus dengan pita pariwisata yang cantik. Pada awal tahun 1900-an, Belanda baru saja selesai menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara melalui serangkaian perang yang sangat berdarah, termasuk penaklukan puputan di Bali dan perang panjang di Aceh. Citra mereka di mata internasional sedang sangat buruk. Mereka dicap sebagai penjajah yang kejam. Mereka butuh cara untuk mencuci tangan. Dan di sinilah sains komunikasi publik bermain: pariwisata adalah alat Public Relations yang paling jenius. Melalui biro perjalanan OTB, mereka ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Hindia Belanda adalah tempat yang aman, tertib, dan makmur di bawah kendali mereka—sebuah konsep propaganda yang disebut Pax Neerlandica. Realitas pahit seperti kemiskinan, kerja paksa, dan penindasan disembunyikan rapat-rapat di balik rute tur yang sudah disetir sedemikian rupa. Wisatawan asing datang, menginap di hotel mewah, melihat "Hindia Molek" dari jendela kereta api, lalu pulang ke Eropa membawa cerita bahwa Belanda adalah penjaga peradaban yang baik. Kita bukan sedang melihat sejarah berdirinya biro travel biasa, teman-teman. Kita sedang membedah manipulasi persepsi global tingkat tinggi.
Mengetahui fakta sejarah ini mungkin sedikit banyak mengubah cara kita memandang industri jalan-jalan. Namun, justru inilah esensi dari belajar sejarah dan sains. Kita diajak untuk berlatih berpikir kritis, melihat sesuatu tidak hanya dari bungkus permukaannya saja. Saat ini, pariwisata telah menjadi hak hampir semua orang, bukan lagi monopoli kaum elit Eropa atau alat propaganda politik penjajah. Kita bebas merencanakan perjalanan ke mana pun kita mau. Namun, jejak biro perjalanan pertama ini meninggalkan satu pertanyaan reflektif untuk kita bawa pulang. Saat kita liburan hari ini, memotret warga lokal secara diam-diam demi feed media sosial yang estetik, apakah kita tanpa sadar masih meneruskan tatapan Mooi Indie warisan masa lalu? Liburan itu memang sangat menyenangkan, dan dopamin yang meletup dari tempat baru itu sangat nyata dan menyehatkan mental. Tapi menjadi pejalan kaki yang peka, berempati, dan sadar akan realitas kehidupan manusia di balik keindahan suatu destinasi, rasanya jauh lebih bermakna. Selamat merencanakan perjalanan selanjutnya teman-teman, dan mari kita biasakan jalan-jalan dengan mata dan pikiran yang benar-benar terbuka.